Fakta suplemen minyak ikan yang belum banyak diketahui

Fakta suplemen minyak ikan yang belum banyak diketahui
Hezne Ezaty Abu Hasan, 06 Mar 2018

Minyak ikan sudah sejak lama dianggap sebagai pil ajaib. Dengan indikasi untuk mencegah penyakit kardiovaskular, diabetes, depresi, masalah kulit dan meningkatkan kesehatan secara umum ? menjadikan minyak ikan sebagai salah satu suplemen yang paling sering dikonsumsi. Banyak orang mengonsumsi suplemen minyak ikan tanpa tahu sama sekali manfaatnya, hanya mengikuti kebanyakan orang.

“Banyak orang tidak tahu mengapa mereka mengonsumsi minyak ikan,” kata Dr R. Preston Mason, anggota fakultas di Harvard Medical School dan President of Elucida Research, perusahaan riset bioteknologi. “Orang mengonsumsi minyak ikan karena kandungan omega-3. Orang-orang mendengar minyak ikan bagus untuk kesehatan, sehingga mereka mengonsumsinya. Kondisi ini menjadi tren saat ini.”

Minyak ikan diketahui kaya akan rantai panjang asam lemak tak jenuh omega-3 ? yang disebut asam docosahexaenoic (DHA) dan asam eicosapentaenoic (EPA). Kandungan ini sangat penting dalam koordinasi dan komunikasi antar sel, terutama di otak.

Penggunaan minyak ikan sebagai suplemen diketahui telah digunakan sejak abad ke-18, sebelum industri ini meledak pada abad ke-19 dan abad ke-20. Kemajuan teknologi juga ikut memengaruhi penelitian mengenai minyak ikan, namun sayangnya, banyak yang mulai menemukan bahwa minyak ikan mungkin tidak sesuai dengan klaimnya.

Meningkatkan keuntungan dan menurunkan risiko
Pertama, DHA dan EPA sangat rentan teroksidasi. Dengan demikian, suplemen minyak ikan over the counter rentan terhadap kerusakan akibat paparan cahaya, oksigen dan panas selama proses pembuatan dan pengiriman.

“Saat senyawanya rusak, tentu saja produk tersebut tidak memberi manfaat yang diharapkan,” tutur Mason. Ia mencatat bahwa hal yang sama bisa terjadi dengan ikan, tapi bau busuk yang timbul akibat kerusakan membuat produk tidak layak dibeli atau dikonsumsi. Suplemen diberi bahan kimia tambahan untuk menutupi bau busuk yang timbul.

Mason juga menemukan bahwa suplemen minyak ikan dikemas lebih dari sekedar omega-3.

“Saya ingin mengajukan pertanyaan: Apa sebenarnya yang ada di dalam kapsul ini?” Dia bertanya. “Kami cukup terkejut melihat bahwa dalam beberapa suplemen yang banyak digunakan ini, hanya sepertiga produknya yang merupakan omega-3, dan keseimbangan dengan lipid lainnya, termasuk lemak jenuh, yang tidak kita kaitkan dengan manfaat kesehatan.”

Selain itu, Bapak Ng Kar Foo, Konsultan Diet di Universitas Kedokteran Internasional (IMU), menyoroti bahwa ada laporan kasus yang juga menunjukkan efek samping dari mengonsumsi terlalu banyak minyak ikan ? seperti perdarahan atau perubahan fungsi kekebalan tubuh.

“Jika seseorang ingin mengonsumsi suplemen minyak ikan, dia harus meminta saran dari dokter atau ahli diet untuk menentukan dosis yang sesuai dan untuk mencegah interaksi obat dengan makanan yang dapat membahayakan kesehatan,” sarannya.

Apakah minyak ikan berbahaya?
Penelitian meta-analisis terbaru dari sepuluh uji acak terkontrol yang dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association (JAMA) Cardiology, menemukan bahwa asam lemak omega-3 tidak efektif untuk mencegah penyakit kardiovaskular.

Dari 77.917 individu berisiko tinggi yang mengonsumsi minyak ikan selama kurang lebih empat tahun, ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam mengurangi penyakit jantung. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa rekomendasi penggunaan minyak ikan untuk alasan ini tidak lagi diperlukan.

“Uji coba yang dilakukan dengan hati-hati tidak menunjukan hipotesis bahwa suplemen minyak ikan membantu,” kata penulis senior, Dr Robert Clarke, seorang profesor epidemiologi di Universitas Oxford.

Demikian pula, penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa konsumsi minyak bunga matahari dan minyak ikan dalam jangka panjang dapat merusak hati dan meningkatkan kadar steatohepatitis non-alkohol (NASH) ? yang merupakan katalis untuk sirosis dan kanker hati.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa lemak terakumulasi di hati, namun temuan yang paling mencolok adalah bahwa jenis lemak yang terakumulasi bergantung pada jenis minyak yang dikonsumsi,” jelas Jose Luis Quiles Morales, Profesor Fisiologi di Universitas Granada.

“Dapat disimpulkan bahwa terlepas dari akumulasi ini, beberapa organ hati memiliki kondisi yang lebih sehat daripada yang lain dan memiliki kecenderungan lebih besar atau lebih rendah terhadap penyakit tertentu.”

Menyelami bisnis yang mencurigakan
“Hasil dari dua penelitian tersebut tidak mengherankan karena ilmu gizi tidak selalu memberi jawaban yang jelas, terutama saat menguji khasiat gizi tunggal terhadap kesehatan,” kata Mr Ng.

“Gaya hidup termasuk pola makan secara keseluruhan adalah faktor kunci yang memengaruhi sebagian besar penelitian nutrisi dan sulit untuk dikesampingkan dalam penelitian ini,” tambahnya.

Meskipun demikian, mungkin “ada beberapa hal lain tentang mengonsumsi ikan, bukan hanya minyak ikan, dan hal tersebut bermanfaat,” ujar Dr. Cheryl Cipriani, spesialis bayi dan profesor kedokteran di Texas A & M Health Science Center di Dallas. Dia mengomentari dua studi tentang konsumsi minyak ikan pada wanita hamil.

Mr Ng turut setuju, menyatakan bahwa bukti ilmiah untuk sumber makanan yang mengandung omega-3 lebih kuat dan lebih meyakinkan.

“Mereka yang mengonsumsi omega-3 dari sumber makanan cenderung mendapatkan lebih banyak manfaat kesehatan karena makanan menyediakan satu paket nutrisi penting yang hampir tidak dapat ditiru oleh suplemen,” jelasnya. “Selain itu, makanan lebih memuaskan daripada mengonsumsi suplemen.”

Diet kaya omega-3 harus mengkonsumsi cukup banyak makanan, karena ikan berlemak seperti salmon, mackerel dan sardines dikemas dalam DHA dan EPA. Asam lemak ketiga yang disebut alpha-linolenic acid (ALA) juga ditemukan pada kenari, canola, biji rami, biji chia dan biji labu, yang bisa diubah menjadi DHA dan EPA.

“Pada akhirnya, anggapan lama tidak akan pernah salah ? mengonsumsi makanan sehat (termasuk makanan kaya omega-3) dan mempraktikkan gaya hidup aktif sangat penting dalam mendukung kesehatan jantung dan kesehatan kardiovaskular secara menyeluruh,” tutur Mr Ng. Sumber MIMS.Com

This entry was posted in HIKMAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *