Landasan

  1. Fatwa MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Asuransi Syariah
  2. Fatwa MUI No. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Tabarru Asuransi Syariah
  3. Fatwa MUI No. 106/DSN-MUI/X/2016 Tentang Fatwa Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah
  4. UU No. 2 tahun 1991 tentang Asuransi
  5. Peraturan Menteri Keuangan nomor PMK 18/PMK.010/2010 tentang Asuransi Syariah
  6. QS Al Maidah (5) :
    Ayat 2 : perintah tolong menolong dalam kebaikan dan takwa
    Ayat 8 : perintah adil dalam segala hal.
  7. QS An Nisaa’ (4) :
    Ayat 9 : larangan meninggalkan generasi lemah
    Ayat 10 : larangan menzalimi harta anak yatim
    Ayat 11 : perintah memberikan warisan sesuai aturan syariat
    Ayat 29 : larangan menyiksa diri, menyusahkan diri sendiri, membunuh diri. Perintah ikhtiar dengan menyiapkan atau memilih yang terbaik.
  8. QS Yusuf (12) :
    Ayat 46-49 : perintah menyisihkan rizki untuk masa paceklik
    Ayat 72 : tabungan/harta perlu ada penjamin/proteksi.
  9. QS Al Hsyr (59) :
    Ayat 18 : perintah untuk memperhatikan hari esok, membuat perencanaan dan langkah-langkah terbaik (termasuk untuk akhirat)
  10. QS Al Baqoroh (2) :
    Ayat 195 : larangan berbuat kebinasaan dan perintah berbuat kebaikan
  11. QS Al Mujadilah :
    Ayat 11 : pentingnya pendidikan
  12. Landasan Hadits :

    Hadits-1 :

    Setiap muslim dengan muslim yang lainnya adalah saudara. Ia tidak boleh dzalim dan aniaya kepada saudaranya, termasuk kepada orang lain. Ia harus memiliki benefit, baik untuk dirinya maupun orang lain

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.” Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
    1. Muslim (no. 2699).
    2. Ahmad (II/252, 325).
    3. Abu Dâwud (no. 3643).
    4. Tirmidzi (no. 1425, 2646, 2945).
    5. Ibnu Mâjah (no. 225).
    6. Ad-Dârimi (I/99).
    7. Ibnu Hibbân (no. 78- Mawâriduzh Zham-ân).
    8. Ath-Thayâlisi (no. 2439).
    9. Al-Hâkim (I/88-89).
    10. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 127).
    11. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/63, no. 44).

Hadits-2 : Lima perkara sebelum lima perkara

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih, juga dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Hadits-3 : Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”. (HR. Ahmad dengan sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadhili karya Ibnu ‘Abdil Bar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri).

Hadits-4 : Tabungan harus ada penjamin (proteksi)nya

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda (artinya): Tidak ada satu pun amalan yang mendekatkan kalian ke surga, melainkan telah aku perintahkan kalian kepadanya. Dan tidak ada satu pun amalan yang mendekatkan kalian ke neraka, melainkan aku telah melarang kalian darinya. Janganlah kalian menganggap rezeki kalian terhambat. Sesungguhnya, Malaikat Jibril telah mewahyukan ke dalam hati sanubariku, bahwa tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezekinya. Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan cara yang baik. Jika ada yang merasa rezekinya terhambat, maka janganlah ia mencari rezki dengan berbuat maksiat, karena karunia Allah tidaklah di dapat dengan perbuatan maksiat. [HR Al Hakim dan selainnya, dan dishahihkan Al-Albani dalam Siilsilah Ahadits ash-Shahihah No. 2607]

Hadits 5 dan 6 : Larangan membahayakan diri sendiri maupun orang lain

Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Takhrij dari hadits ini, diriwayatkan oleh:
1. Mâlik dalam al-Muwaththa’ (II/571, no. 31).
2. Ad-Dâraquthni (III/470, no. 4461).
3. Al-Baihaqi (VI/69).
4. Al-Hâkim (II/57-58). Dalam riwayat al-Hâkim dan al-Baihaqi ada tambahan,

َمَنْ ضَارَّ ضَرَّهُ اللهُ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللهُ عَلَيْه

Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allâh akan menyulitkannya.”

Hadits Abû Sa’îd di atas memiliki beberapa penguat dari sejumlah Sahabat lain, diantaranya ‘Ubâdah bin ash-Shâmit (Ibnu Mâjah, no. 2340), ‘Abdullâh bin ‘Abbâs (Ibnu Mâjah, no. 2341), Abu Hurairah, Jâbir bin ‘Abdillâh, Tsa’labah bin Abi Mâlik al-Qurazhi, Abu Lubâbah, dan ‘Aisyah Radhyallahu anhum. Hadits ini dinilai hasan oleh an-Nawawi rahimahullah dalam al-Arba’în, Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, dan Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah (no. 250), Irwâ-ul Ghalîl (no. 896), dan Shahîh Kitâbil Adzkâr wa Dha’îfuhu (II/985, no. 981/1247).

Kaidah Fiqh :
1. Kemudharatan harus dihilangkan secepat mungkin
2. Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat mungkin (As Suyuthi, Al-Asybah wan Nadzair, 62)

Konsultasi
Untuk konsultasi landasan hukum, silakan kunjungi Dewan Syariah Nasional MUI
Atau kunjungi Dewan Pengawas Syariah Sun Life Syariah, di :
Kantor Pusat PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life)
Menara Sun Life Lantai Dasar
Jl Dr Ide Anak Agung Gde Agung Blok 6.3
Kawasan Mega Kuningan – Jakarta Selatan 12950